Resensi Kuliner Betawi

 Kuliner Betawi


Judul Lengkap: Kuliner Betawi: Selaksa Rasa & Cerita.

Penulis/Pengarang: Akademi Kuliner Indonesia.

Penyunting: Intarina Hardiman.

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama.

Tahun Terbit: 2016 (September).

Kategori: Masakan, Makanan, & Resep. 




Buku berjudul Kuliner Betawi Karya Shinta Teviningrum, Fajar Ayuningsih, Heni pridia, Mulya Sari Hadati Firta Hapsari, Lila Mulianti, Berlianti Savitri. ini memberi tahu kita para pembaca bahwa Akulturasi Budaya: Buku ini menjelaskan bahwa kuliner Betawi adalah hasil perpaduan berbagai budaya, termasuk pengaruh Tionghoa, Arab, Melayu, dan Eropa (Belanda).

Alur Cerita & Tradisi: Narasi buku tidak hanya menyajikan resep, tetapi juga merangkai cerita tentang perkembangan kota Jakarta dan manusia yang hidup di dalamnya, terutama yang berkaitan dengan tradisi makan.

Dokumentasi Sejarah: Merekam berbagai peristiwa penting, upacara adat, dan hajatan masyarakat Betawi tempo dulu di mana kuliner menjadi bagian sentralnya.

Variasi Menu: Mencakup resep masakan favorit seperti Soto Betawi, Kerak Telor, dan Nasi Uduk, hingga hidangan yang kini sudah jarang ditemukan atau kurang dikenal masyarakat luas.

Ciri Khas Rasa: Menekankan pada cita rasa kuliner Betawi yang umumnya gurih, kaya rempah, dan menggunakan bahan-bahan lokal yang mencerminkan kearifan masyarakat setempat. 


Karya yang dibuat Shinta Teviningrum, Fajar Ayuningsih, Heni pridia, Mulya Sari Hadati Firta Hapsari, Lila Mulianti, Berlianti Savitri. ini 

Dokumentasi yang Sangat Lengkap: Buku ini tidak hanya berisi resep, tetapi juga mendokumentasikan sejarah dan asal-usul setiap hidangan, menjadikannya referensi budaya yang penting.

Visual yang Menarik: Menggunakan fotografi makanan (food photography) berkualitas tinggi yang membuat hidangan tradisional seperti Soto Betawi atau Kerak Telor terlihat modern dan menggugah selera.

Informasi Latar Belakang (Storytelling): Menyertakan filosofi di balik makanan (seperti Roti Buaya atau Kerak Telor) dan pengaruh berbagai budaya (Arab, Tionghoa, Eropa) yang membentuk rasa kuliner Betawi.

Upaya Pelestarian: Berperan sebagai media untuk memperkenalkan kembali kudapan langka seperti Kue Geplak atau Gabus Pucung kepada generasi muda agar tidak punah. bahasanya mudah dimengerti. Sebagai pembaca kita akan diajak untuk menyimak sejarah, namun seakan sedang menyimak cerita dongeng. Ceritanya lengkap dan tulisannya rapi. Membaca buku ini serasa terhanyut mengalir mengikuti arus air. Namun di balik itu, gambarnya terbatas, hanya ada satu per beberapa halaman. Bagi yang tidak suka membaca, buku ini banyak halaman jadi lama untuk dibaca.

Hasil Akulturasi Budaya yang Kaya

Kuliner Betawi merupakan cerminan sejarah Jakarta yang kosmopolitan. Makanan Betawi lahir dari perpaduan harmonis antara berbagai budaya, termasuk Melayu, Tionghoa, Arab, Eropa (Belanda), serta pengaruh lokal seperti Jawa dan Sunda. Contohnya, penggunaan rempah-rempah yang kuat seringkali mendapat pengaruh dari budaya Timur Tengah dan India, sementara teknik tertentu seperti penggunaan kecap atau mie berasal dari pengaruh Tionghoa.

Media Pewarisan Nilai dan Identitas

Kuliner bukan sekadar objek konsumsi, melainkan media untuk memperkuat jati diri bangsa dan mewariskan nilai-nilai sosial. Banyak masakan Betawi memiliki fungsi ritual dan sosial, seperti Roti Buaya dalam pernikahan atau Ayam Bekakak dalam upacara adat, yang menjadi simbol kesetiaan dan syukur.

Tantangan Pelestarian di Era Modern

Banyak literatur menyimpulkan bahwa kuliner tradisional Betawi menghadapi ancaman kepunahan. Faktor utamanya adalah gempuran makanan cepat saji modern, kurangnya pengetahuan generasi muda, serta terbatasnya regenerasi pembuat makanan tradisional. Oleh karena itu, buku-buku ini seringkali menyarankan upaya pelestarian melalui dokumentasi literasi, pelatihan untuk pemuda, dan pengembangan wisata kuliner. Ketersediaan Bahan: Beberapa resep mungkin menggunakan bahan-bahan tradisional atau spesifik (seperti buah keluak untuk Gabus Pucung) yang mungkin sulit ditemukan di luar wilayah Jakarta atau oleh pemula.

Format yang Terkadang Terlalu Akademis: Karena beberapa buku kuliner Betawi disusun sebagai bagian dari studi atau proyek dokumentasi, gaya bahasanya terkadang terasa lebih berat dibandingkan buku resep populer yang praktis.

Langkanya Penjual Asli sebagai Referensi: Karena semakin sedikitnya penjual tradisional, pembaca mungkin kesulitan membandingkan hasil masakan dari buku dengan rasa "asli" di lapangan.

Harga dan Aksesibilitas: Buku dengan kualitas cetak dan riset tinggi seperti ini biasanya dibanderol dengan harga yang cukup mahal dibandingkan buku resep saku di toko buku. 

 Karena buku ini mudah dipahami, sehingga cocok dibaca semua kalangan usia. 


Nama:Nabila rizky nugraha

No:22

Kelas:7A

Komentar